Kamis, 26 September 2019
Selasa, 04 Juni 2019
Ke"aku"anku.
Sudah waktunya meredam ego,
mengkaji ulang pikiran.
Melunak dan mencoba lebih tenang!
Perihal memaafkan dan ikhlas, bukan cuma tentang kemarin.
Tentang proses, demikian semua itu pun harus terus berjalan beriringan.
Kupikir, kemarin-kemarin ku sudah berhasil.
Nyatanya, ego dan aku adalah satu kesatuan yang saling tumpang tindih.
Siapa yang akan 'menyetir' nya paling dominan?
***
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H, besok pagi kita mulai lebih baik lagi ya?
Selasa, 04 Juni 2019
23:45 WIB
Minggu, 28 April 2019
Rahasia.
Aku yang keras kepala ini, sedang ingin jujur. Sejenak saja. Jujur kepada diri sendiri, kepada hidup, kepada dunia.
Kupikir, orang yang bebas adalah orang yang tak memiliki rahasia di hidupnya.
Mereka tidak perlu takut.
Mereka tidak perlu cemas.
Mereka bebas.
Tak ada rahasia.
Tak ada yang perlu di tutupi.
Dunia adalah dimana ia bercemin,
apa adanya.
---
Jakarta, 28 April 2019
Akhir-akhir ini sedang sering turun hujan.
Tak apa.
Hore, mari kita merayakan rindu!
Selasa, 16 April 2019
Kilometer
Dulu kupikir jarak terjauh diantara kita adalah kilometer,
Nyatanya...
Jarak terjauh itu adalah perasaan kita sendiri.
Mari, menerka dulu apa yang sebenarnya kita mau?
---
Kuningan, 16 April 2019.
Btw, besok lebaran rakyatnya Indonesia.
Diantara 'mereka' yang ngotot dengan pilihannya. Disini aku juga berharap sedang dipilih. Ah, jiji.
Tapi aku serius.
Minggu, 17 Maret 2019
Jatuh Cinta.
Pada suatu hari, teman pernah bertanya "Menurut lo, apa yang paling menarik dari seorang pria?"
"Apa?" jawab gue, bego.
"Ya apa aja..."
"Ada 2 sih yang selalu membuat gue merasa amaze sama orang: pikiran dan perilaku. Kalo harus di spesifikin ke cowo, ya berarti: cara dia memandang hidup dan cara dia memperlakukan orang lain...."
"Gue ngga spesifik bilang cewe ya, karena ya di dunia ini yang harus bersinggungan ama dia, ngga cuma cewe. Cara dia menperlakukan tukang parkir aja kadang gue observe" tambah gue.
"Berarti lu akan suka sama cowo yang gitu?"
"Hm, suka pasti. Kalo jatuh cinta, belum tentu. Kenapa? Karena menurut gue, pada akhirnya apapun standart lu tentang pasangan, akan kalah dengan jatuh cinta tanpa alasan. Ketika lu jatuh cinta sama orang, lu akan dengan sendirinya mencari kebaikan yang ada didalam diri dia kok...."
"Tapi lu ngerasa gak sih, kalo untuk tau bener-bener perilaku orang itu harus butuh waktu yang lama? Kayaknya kalo cuma nilai dimasa-masa pdkt, apa nggak banyak fake nya?"
"Nah, that's why gue ngga percaya sama jatuh cinta pada pandangan pertama. Bagi gue, cinta adalah akumulasi waktu dan proses. Itu idealis gue aja sih, tiap orang beda-beda."
"Pantesan, lu jomblo dan menjomblo lama" katanya diiringi gelak tawa, menyebalkan tapi kenyataan.
"Gue suka agak gimanaa gitu, kalo ada orang baru kenal udah bilang sayang. So bullshit. Kayaknya itu sih suka-suka sesaat aja. Terlalu jauh menerjemahkan. Nah, biasanya yang apinya menyala dengan cepat, akan padam dengan cepat pula. Malesin kan"
"Hahaha, sama gue juga. Apaan banget"
"Kadang gue suka mikir, apa gue terlalu selektif ya? Tapi masa sih? Apa emang yang gue cari? Gue aja ngga ada standar. Kalo suka ya suka aja."
"Apa karena ngga ada yang bertahan sama lo? Sebenernya, orang yang sulit jatuh cinta itu akan setia kalo udah punya dan lu juga tipe yang kalo udah satu ya satu."
"Ampe bego ya malahan? Haha"
"Hahahaha"
"Kayaknya bukan soal selektif ngga selektif deh, balik lagi mungkin karena sulit jatuh cinta itu, makanya lama membuka hati. Iya gak sih? Apa lo ngga ngerasa gitu, lu juga kan sama kaya gue?"
"Hm, bisa jadi. Kaya ada benteng tinggi nan tebal yang harus dirobohkan."
"Nah, iya. Tapi kenapa coba lu membentuk benteng setinggi dan setebel itu? Ibaratnya, lu pengen diketahui tapi lu sendiri yang bersembunyi eh malah nyusahin orang buat nemuin lu pula"
Hening....
"Trauma kah?" Kata dia.
"Emang sebegitunya ya ampe segininya?" Kata gue.
Hening....
"Tapi gpp sih, pada akhirnya orang yang bersama gue ya yang mau berproses sama gue."
Hening...
***
Tentang jatuh cinta, hak kalian untuk jatuh cinta karena apa..atau ada apa.
Gue mau share pengalaman, jadi waktu itu dosen gue pernah bilang "menikahlah dengan seseorang yang enak diajak ngobrol."
Yash! karena nanti kalo tua diantara segala keterbatasan fisik, yang cuma bisa dilakukan tanpa banyak tenaga, ya ngobrol. Kalo suka karena fisik, lambat laun semua hanya akan sama: keriput.
***
Memasuki usia ditanya tentang pernikahan (padahal masih merasa kanak-kanak). Pun sudah terlalu banyak undangan (bahkan sudah ada yang mau punya anak).
It's oke, kalo lu masih sendiri.
Yang lebih menyeramkan adalah, terburu-buru hingga salah pilihan.
"....karena ganteng dan mapan aja ngga cukup, kalo ngga se frekuensi"-Hardianti, 2018.
In the end, gue mau share quotes favorit gue yang berkaitan dengan topik diatas :
"When you fall in love with someone's personality, evertything about that person tends to become beautiful"
"We fall in love with personality,
the words they say
and their behaviour
the thoughts and opinions
the moments you make and remember
we lust with our eyes
and love with our hearts."
---
Minggu malam, 17 Maret 2019.
Aku dikamar yang berantakan, sedang menerka-nerka apakah aku sedang jatuh cinta?
Sabtu, 22 Desember 2018
Topeng
Suatu ketika teman saya datang tergopoh-gopoh, mulutnya penuh dengan omelan-omelan yang memuntahkan banyak sumpah serapah. Hujan kala itu membuat saya malas untuk banyak berkomentar, saya lirik sekilas lalu lanjut memperhatikan hujan disamping jendela.
“Lo yaa...kok sama-sama ngeselinnya sih.” Saya lantas meninggalkan dia menuju dapur, berjalan tanpa menengok sama sekali. Saya malas menggubris, dia pun tahu tabiat saya. Setelah beberapa menit, saya menghampiri dia sambil membawa dua cangkir teh panas.
Tanggannya menyambut, lalu mengucapkan terimakasih tanpa mengalihkan pandangan.
Kemudian dia datang lagi tadi malam, matanya berbinar, mengatakan kebahagiannya terhadap sesuatu...atau seseorang? Saya lupa. "Tar...dia baik banget tau. Nggak salah banyak yang suka sama dia”, deskripsinya terhadap hal yang sama.
***
Seperti apa sih kamu memandang orang di sekitar kamu? Kamu memandang orang terdekat kamu? Kenapa kamu bisa mengatakan dia “baik” atau dia “jutek” pada first impression kalian betemu? Kenapa untuk orang yang sama kita jumpai, respon kita bisa berbeda? Kenapa menurutmu dia “begini” sedang menurutku dia “begitu”?
Pernah pada suatu percakapan, teman saya mengatakan “Gue ketemu dia di seminar, terus dia cuma respect sama almamater dia doang, sombong”. Pada saat yang bersamaan, saya yang tidak tahu apa-apa ini iya-iya saja, tanpa ada dalam situasi dan kondisi yang sama atau tanpa mengcroscek kebenarannya. Hingga pada suatu hari saya membaca sebuah cerita fans dari si artis yang bercerita tentang keramahannya si artis.
Lucu nggak sih, manusia itu satu kesatuan yang utuh. Tapi manusia lain menilai sesama manusia seperti seolah-olah dia adalah dua manusia yang berbeda....ini manusia nya yang berubah atau kita yang salah menilai?
***
Masih banyak kasus lainnya yang sebenarnya saya malas ketik dikarenakan keyboard notebook yang kurang nyaman. Intinya sama. Pertanyaanya adalah lalu semua ini sebenarnya, apa? Bagaimana? Kenapa?
Pada kenyataanya, sadar tidak sadar kita juga sering mengatakan “Ternyata dia baik” atau “Baik sih aslinya” dan kalimat-kalimat lain yang intinya sama.
Lalu, yang kemarin itu apa? Menurut saya yang awam ini, jika diibaratkan manusia itu memiliki beberapa lapis topeng. Bukan tentang mana dia yang sebenarnya tapi… dalam rupa apa kau menjumpainya, dalam rupa mana kau dijumpainya.
Jadi gini contohnya, saya adalah seorang manusia biasa yang tak ubahnya memiliki mood yang bisa berubah-ubah atau saya adalah seorang perempuan muda yang belum cukup fasih bagaimana menepatkan dirinya dihadapan dunia, lingkup kecilnya adalah dihadapan society dimana kita berada. Saya rasa hal ini juga berlaku untuk yang lainnya (saya tidak bilang semua).
Pada saat saya sedang tidak ingin diajak bicara karena nilai ujian saya dibawah rata-rata, saya bertemu dengan kamu atau kalian. Sekalipun kamu berbicara penuh antusias tentang suatu hal, saya bisa jadi membalas seperlunya. Maka terjadilah, dia sombong.
Saya kesal pada hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu saya permasalahkan hanya karena saya sedang on period kemudian apa yang saya lakukan bisa menyakiti lingkungan saya. Maka terjadilah, dia jutek.
Lain halnya ketika saya sedang baik-baik saja dan memungkinkan untuk menjawab pertanyaaan, memungkinkan untuk menyapa, atau memungkinkan-memungkinkan lainnya.
Kenapa hal ini terlihat seperti sulit? Karena kenyataanya, kadang kita bertemu pada waktu dan saat yang tidak tepat seperti di persimpangan jalan, disaat terburu-buru menunggu kereta, dan macam-macam lainnya yang kurang sesuai. Hal ini tentu saja berlaku sebaliknya, ketika saya berada di posisi kamu.
Hingga pada situasi dan kondisi yang mendukung selanjutnya, ketika akhirnya kita bisa bertegur sapa, saling melempar senyum, lebih jauh lagi kita bisa berbincang tentang banyak hal, memahami sisi lain masing-masingnya. Maka terjadilah, dia aslinya baik juga (hal ini bisa berlaku sebaliknya).
Sampai sejauh ini, sejauh mana pesan saya tersampaikan? Sejauh mana “kita” (ya, termasuk saya) memahami maksud dan arah pembincangan ini? Masih samar, kah?
***
Semasa kuliah tingkat dua, dosen saya mengatakan bahwa personality seseorang yang kemudian kita sebut sebagai kepribadian berasal dari kata “persona” yaitu topeng. Ya, manusia dengan topengnnya. Tapi hal ini jangan membuatmu beranggapan bahwa berapa banyak topeng yang digunakan atau dipakai seolah-olah mengatakan bahwa manusia memiliki banyak kepribadian.
Tidak, jangan.
Lebih lanjut lagi, kita harus tahu bahwa kepribadian adalah konsep keseluruhan/kesatuan traits dan karakter manusia, sedangkan topeng yang saya bahas diatas keadaan emosional yang sedang dirasakan individu yang mempengaruhi pandangan awal kita terhadap sesuatu.
***
Jadi,
Topeng, dalam rupa apa kau menjumpainya, dalam rupa mana kau dijumpainya.
---
Tulisan ini dibuat bulan November 2016. Diselesaikan September 2017.
Dipost Desember 2018.
Sangat panjang memang untuk saya yang pemalu dan terlalu cupu ini.
Kemana?
"Kamu tidak perlu kemana-mana, karena sebenarnya yang kamu hindari ada dalam pikiranmu" Siti (dalam imajinasi,2016)
--
Tulisan lama, tak sengaja berjumpa lagi.
Ternyata kasusnya masih sama, semoga selalu menjadi pengingat. Selamat bermain-bermain.. dengan pikiranmu!
Senin, 08 Oktober 2018
Pertanyaan Yang Sudah Menemukan Jawaban
Kalau kamu pikir kamu cantik, aku dengan berat hati mengatakan iya. Harus mengakuinya.
Malas sebenarnya. Setelah ini kamu akan mengolok-ngolok dan menjadikan kata itu sebagai pujian, padahal itu hanya jawaban.
Acap kali kamu sering bertanya hal-hal yang aku tidak suka, tapi dengan senang hati aku mau mendengarnya. Meski enggan menjawab, aku akan selalu melakukannya.
Pertanyaan semacam,
" Aku cantik ngga?"
" Kamu sayang sama aku nggak?"
Ingin aku berteriak padamu, apakah hal-hal seperti itu masih harus dipertanyakan?
Tentu saja, meski begitu aku tidak akan menjawabnya. Kemudian kamu akan merengek, seringnya bertanya hal lain yang arah dan tujuannya akan tetap sama. Tapi, aku akan tetap dan tentu dengan senang hati mengikuti arusnya.
Kadang-kadang, bukan hanya pertanyaan yang tidak perlu jawaban. Ada beberapa hal seperti pernyataan yang tak perlu kau utarakan, aku pasti merasakan.
" Nanti kalo aku ngga ada, kamu kangen loh"
Semacam itu.
---
Untuk seseorang yang isi kepalanya sedang aku terka, dalam rangka menyambut hari-hari perpisahan.
Berpisahnya belum, sedihnya sudah terasa.
---
Jakarta, 08 Oktober 2018
01 : 16 WIB
(Jangan terlalu serius, tulisanku tidak benar-benar nyata)
Selasa, 19 Juni 2018
Abstaraksi : Dia 2
Dia rindu.
Rindu sesuatu.
Benar kata orang, rindu memang selalu tentang jarak. Tapi baginya, rindu terberat bukanlah tentang kilometer, tapi tentang sesuatu yang jauh.
Dimensi, yang sudah terlewat.
Masa lalu.
--
Bukan, bukan tentang ada apa atau siapa disana.
Bukan tentang waktu.
Tapi tentang esensi didalamnya.
Ada sesuatu yang dia rasakan.
Kedamaian.
--
Dia tidak rindu masa lalu, dia hanya rindu "kedamaian" pada masa lalu. Sesuatu yang sebenernya bisa dia dapatkan juga, tak hanya di masa lalu. Di masa ini.
Sabtu, 16 Juni 2018
Abstraksi : Dia 1
Dia meringis.
Pilu sekaligus muak.
Earphone dan musik yang didengarkan membuatnya hanyut dalam lirik dan nada. Riuh hanya ada antara kepala dan telinga.
Asik, hanyut dalam alunan.
Meng"amini" kata kata yang terdengar sembari meresapi makna yang tumpang tindih dengan kenangan dan juga harapan.
Dia mulai sibuk, dengan pikirannya sekaligus lamunannya.
Jangan, ada yang ganggu! Pikirannya melayang, mengambang, bercabang, buntu, hilang dan hinggap tak karuan.
Manusia manusia terlihat bisu.
Membual tanpa suara.
Kosong.
Sunyi.
Dia menikmati keriuhan yang dia nikmati seorang diri.
Keheningan penuh kebohongan yang dunia tawarkan begitu manipulatif. Sekali di nikmati, banyak mulut-mulut berbusa berbicara tak berfakta.
--
Dia sedang "berusaha" pulang ke dalam pelukannya sendiri.
Rabu, 13 Juni 2018
Lawan Bicara
---
Lawan bicaranya terus berbicara, apa saja yang ingin dia katakan. Dia utarakan. Sembari memilih makanan yang ia tak suka untuk di taruh di pinggiran piring, menunduk dalam lalu menyuapkan nasi ke mulutnya dengan malas. Kekenyangan.
Lawan bicaranya sesekali berhenti mengunyah, melihat ke sudut yang berbeda. Tidak benar-benar melihat, tidak benar-benar memperhatikan sesuatu. Dia memang suka begitu.
Lawan bicaranya menghela napas, berujar tentang makanan yang tak kunjung habis. Dan seseorang mulai menawarkan diri untuk menghabiskan. Selalu begitu.
Lawan bicaranya melarang. Kemudian melanjutkan dengan pelan. Sesekali lawan bicaranya bertanya tentang keseharian dan kesibukan ibu kota. Lalu, mengeluh karena kemacetannya.
Lawan bicaranya memang pandai berbicara. Dia menyadari ada seseorang yang diam-diam memandang kearahnya setiap kali ia sibuk dengan makanan dihadapannya.
---
Perbincangan dengan lawan bicara selalu menarik, setidaknya yang kurang menarik pun akan jadi sesuatu yang mau seseorang tunggu. Tapi, pujangga manapun harusnya paham yang tak saling dibicarakan, yang lawan bicara tak utarakan dan yang seseorang tak ungkapkan jauh lebih memiliki makna dengan kata yang tak mampu dibahasakan. Setidaknya sampai tulisan ini diakhiri.
--
Kuningan, 13 Juni 2018
11.48 WIB
aku, kursi panjang di ruang tengah, dan pikiranku.
Sabtu, 09 Juni 2018
Keputusan Mencintai
Keputusan mencintai akan lebih mudah dilakukan jika tanpa keinginan untuk memiliki.
Ada salah satu quote yang menurut gue, cocok menganalogikan maksud gue.
" Aku mencintaimu, itu urusanku. Kamu terhadapku, itu urusanmu"
Susah emang, kita nggak pernah bisa nipu diri kita sendiri tentang rasa kecewa, sedih, marah atau lainnya ketika kita melihat orang yang kita sayang menyatakan rasa sayangnya kepada orang lain, sedih memang ketika kita hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh sambil bergandengan dengan pujaannya yang sekarang.
Tapi justru memang disitu seni nya, justru disana kekuatannya. Mereka yang mencintai diam-diam, diam-diam mendo'akan, diam-diam sibuk berharap 'dia' jangan bersedih. Tapi yaudah, cukup. Nggak nuntut banyak. Apa yang harus dipersatukan pasti bersatu kok :)
Ikhlaskan semuanya.
Sampai sini, ngerti nggak maksudnya konsep "keputusan untuk mencintai?".
Seseorang pernah bilang ke gue "pada dasarnya, sayang nggak perlu status".
Yang bikin ribet adalah ketika lu memkasakan diri untuk...memiliki. Kadang-kadang gue suka mikir, sampai sejauh ini. Perasaan itu apa benar-benar rasa sayang itu sendiri, bukan obsesi?
Ya bukan berarti kalo lu suka orang, lu harus terus-terusan diem. Maksud gue...nggak memaksakan harus bin kudu memiliki si doi, yang ujung-ujungnya malah nyakitin diri sendiri. Nah ini yang banyak kejadiannya, buanyaaak.
Kasus diatas untuk mereka yang berteman dengan diam.
Lain hal sama mereka yang memang tidak dipilih.
Ya kalo dia nggak milih lo, dia berarti bukan yang terbaik buat lo. it's simple. Pasti ada yang bakal cocok dan pas, buat lo. Yang mau nerima lo dengan segala kejelekan dan kecantikan lo. Itu bisa jadi dia (lagi) di masa yang akan datang, ketika semuanya sudah jauh lebih siap. Ketika semuanya lebih tepat.
Seseorang yang tepat akan datang di waktu yang tepat. Nah, versi tepat lo sama Tuhan kan beda. Itu!
Sambil nunggu semuanya tepat, apa lu mau jadi yang gini-gini aja? Nah. Tetep positif, tetep bahagia, dan terus melangkah maju menjadi lebih baik.
Toh, pada akhirnya semuanya nggak ada yang sia-sia. Ibarat jalan, mereka adalah yang udah lu lalui. Semuanya ngasih pembelajaran, dan juga mendewasakan tentunya.
Cinta harus membuat lu kuat, bukan melemahkanlu. Terserah siapa yang lu suka, tapi kebahagiaan lu ada di tangan lu. Keputusan untuk bahagia adalah pilihan lu.
Suatu hari, si kumbang tahu si mawar udah dihinggapi kupu-kupu. Si kumbang sedih, mawar pujaannya kini sudah memiliki penjaganya. Namun suatu hari, si kumbag berkelana kesana kemari, dan tak sengaja si kumbang bertemu si mawar. Si kumbang bahagia. Meski si kumbang tau si mawar di dampingi si kupu-kupu. Tapi, rasa bahagianya tetep bertahta. Bertemu dengan pujaan hatinya. Iya, ini adalah perasaan si kumbang, terlepas apa yang dirasakan si mawar, terlepas bersama siapa si mawar.
Sepi itu indah, percayalah...
Membisu itu, anugerah....
(penggalan lirik Banda Neira)
---
Tulisan tahun 2016, disalah satu platform yang sengaja ku copy kesini. Bukan karena apa-apa, hanya ingin saja.
Cheers!
Rabu, 04 April 2018
Tentang Puisi: Sukmawati, Kendaraan & Supir
Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut
Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia
Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi
Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.
Minggu, 08 Januari 2017
Sistem Informasi Psikologi
- Dita Fitriyan (12513606)
- Fitriani (13513554)
- Rina Astriani (17513715)
- Rizka Aghnia Budiarti (17513887)
- Siti Hardianti (18513547)
- Sri Wahyuni (18513627)
Jumat, 06 Mei 2016
PSIKOTERAPI DAN JENIS-JENIS PSIKOTERAPI
Dalam rangka memenuhi tugas matakuliah Psikoterapi tentang Pengertian Psikoterapi dan Jenis-Jenis Psikoterapi yang disusun oleh Siti Hardianti.
Minggu, 17 Januari 2016
Contoh E-Commerse (Go-Jek dan Analisis)
|
GO-JEK merupakan
sebuah perusahaan transportasi asal Indonesia yang
melayani angkutan melalui
jasa ojek. Perusahaan
ini didirikan pada tahun 2010 di Jakarta oleh Nadiem Makarim. Layanan
GO-JEK tersedia di wilayah Jabodetabek, Bali, Bandung dan Surabaya. Hingga
bulan Juni 2015, aplikasi
GO-JEK sudah diunduh sebanyak 400 ribu kali di Google Play pada sistem
operasi Android.[3]. Saat ini
juga ada untuk iOS, di App Store.
Go
Jek Indonesia adalah suatu jasa transportasi yang ada di jakarta yang
beroperasi sejak tahun 2011, Go-Jek merupakan pionir penyedia jasa layanan ojek
profesional. Berusaha menawarkan faktor kecepatan, keamanan, dan kenyamanan
bagi para pelanggannya, Go-Jek tumbuh sebagai startup yang menjanjikan di
ibukota. Untuk mengurangi permasalahan penyediaan uang tunai, Go-Jek menawarkan
solusi e-wallet Go-Jek Credit. Bisa dibilang Go-Jek laksana Uber versi ojek
yang cocok dimanfaatkan untuk mengantarkan barang, sarana transportasi, dan
bahkan membantu kegiatan berbelanja di belantara Jakarta.
SEJARAH
Go Jek Indonesia adalah suatu jasa transportasi yang
ada di jakarta yang beroperasi sejak tahun 2011, Go-Jek merupakan pionir
penyedia jasa layanan ojek profesional. Berusaha menawarkan faktor kecepatan,
keamanan, dan kenyamanan bagi para pelanggannya, Go-Jek tumbuh sebagai startup
yang menjanjikan di ibukota. Untuk mengurangi permasalahan penyediaan uang
tunai, Go-Jek menawarkan solusi e-wallet Go-Jek Credit. Bisa dibilang Go-Jek
laksana Uber versi ojek yang cocok dimanfaatkan untuk mengantarkan barang,
sarana transportasi, dan bahkan membantu kegiatan berbelanja di belantara
Jakarta.
a. instant courier
90 minute
delivery anywhere in the city Menit pengiriman 90 di mana
saja di kota
b. Transport
Transparent
pricing, Free shower cap and masker
c. shopping
Shop for
food, ticket, medicine anything under Rp 1.000.000. We'll pay for it first
Untuk mmenikmati jasa yang kami tawarkan konsumen kam
beri kemudahan dengan layanan online yang kami tawarkan, dan konsumen akan
mendapatkan pelayanan sebagai berikut:
Pertama,
Kedua,
Selain itu Phisical Enviroment yang
dimiliki oleg Go-jek Indonesia adalah
1. Logo
2. Pemesanan
yang kami tawarkan adalah via online maka kami mempunyai soft ware android
sebagai penunjang usaha kami.
3. Kami juga
memiliki peralatan lain seperti Sepeda motor, dilengkapi dengan masker dan
helm.
ANALISIS
Go-jek
merupakan jasa transfortasi yang sedang hits
dikalangan masyarakat ibu kota saat ini. Meskipun begitu, pendiri Go-jek,
Nadiem Makarim enggan menyebutkan bahwa Go-jek adalah layanan jasa. Ia lebih
senang Go-jek disebut sebagai layanan yang berbasis teknologi.
Seiring berkembangnya zaman dan globalisasi yang terjadi. Perkembangan teknologi semakin pesat, dilatarbelakangi dengan sistem transportasi Jakarta yang masih kurang tertata dibanding dengan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Menurut analisis saya, Go-jek akan tetap berjaya setidaknya selama pemerintahan Jokowi. Saat ini, Go-jek adalah transportasi jasa yang menawarkan kecepatan, keselamatan dan kenyamanan, belum lagi dengan harga yang relatif terjangkau. Seperti kita ketahui ibu kota dan kota-kota disekitarnya merupakan kota besar dengan kebutuhan masyarakat yang tinggi, termasuk transportasi. Masa pemerintahan Jokowi, disebut-sebut adalah masa pembangunan, terlihat dari rintis ulangnya MRT, dan beberapa jalan tol. Hal ini menunjukan bahwa untuk kurun waktu tertentu, transportasi di Jakarta dan sekitarnya masih kurang optimal. Bahkan ketika salah satu menteri melarang Go-jek di Jakarta, masyarakat banyak yang kecewa dikarenakan Go-jek adalah transportasi yang sedang diminati dan sangat membantu tentunya. Melihat hal ini, seorang mentri pun menarik larangan operasional Go-jek, hal ini menunjukan dominasi dan pengaruh Go-jek dikalangan masyarakat yang besar. Kini, Go-jek menjadi terobosan terbaru.
Go-jek
tidak hanya digunakan oleh warga sipil biasa, bahkan kalangan artis pun
menggunakannya. Hal ini menunjukan Go-jek dapat merangkul semua kalangan. Beda
halnya dengan beberapa transportasi yang ada, misalnya metromini, dilihat dari
keselamatan dan kenyamanan tidak semua kalangan mau menggunakan metromini.
Contoh lain adalah taksi, meskipun taksi menawarkan jasa dengan kenyamanan dan
keselamatan, tidak semua orang bersedia menggunakannya melihat tarif jasa taksi
untuk beberapa kalangan yang cukup menguras kantong, selain itu melihat kemacetan
yang ada taksi juga tidak menawarkan efisiensi waktu.
Beda
halnya dengan Go-jek, antusias menyambut Go-jek terlihat dengan maraknya
posting-an poto menggunakan helm Go-jek.
Go-jek juga menawarkan kenyamanan, keselamatan dan kecepatan, karena
kendaraan roda dua relatif lebih kecil dan lebih mudah menembus kemacetan ibu
kota membuat pengguna dapat menghemat efisiensi waktu. Bahkan jika disamakan
dengan penggunaan ojek biasa, Go-jek tetap menjadi pilihan. Padahal jasa yang
ditawarkan sama, hal ini lah menjadi keuntungan sekaligus keunggulan Go-jek.
Go-jek
telah mampu menciptakan citra perusahaan dan citra merek yang baik di
masyarakat. Mengingat setiap manusia memiliki ego masing-masing, seseorang yang
menggunakan Go-jek dibanding ojek biasa merasa memiliki citra diri lebih dibanding menggunakan ojek biasa. Hal ini pun
terkait dengan gengsi, tentu saja karena Go-jek dihasilkan melalui ide dan
gagasan, juga inovasi yang lebih modern, dan sudah terbentuknya persepsi
tentang citra perusahaan dan citra merek tentang Go-jek itu sendiri.
Meskipun
begitu, sama seperti e-commers yang
lain. Contohnya layanan online shop
kini semakin banyak pengikutnya, dan berinovasi. Meledaknya trend Go-jek dikhawatirkan dapat menarik
pengusaha lain untuk membuat layanan serupa yang bertujuan menghasilkan suatu
layanan jasa mirip Go-jek dengan cara menjadi rival Go-jek itu sendiri.
Inovasi, ide dan gagasan yang segar harus senantiasa diluncurkan, agar
masyarakat tetap loyal kepada layanan Go-jek ini. Hal lain
yang harus diperhatikan adalah menjamurnya penggunaan jasa GO-JEK membuat
adanya kecemburuan di antara tukang ojek pangkalan.
REFERENSI
|













